PEMBINAAN ataukah PEMBINASAAN ?

Tujuan pembinaan salah satunya adalah berusaha untuk dapat merubah kondisi seseorang ke arah yang lebih baik. Misalnya saja dari tidak tahu menjadi tahu, merubah dari yang lemah menjadi kuat, menambah rasa setia kawan, meningkatkan kepedulian terhadap sesama & lingkungan, membuat kinerja seseorang lebih meningkat, dan masih banyak lagi hal-hal yang positif.

Bentuk kegiatannya pembinaan bermacam-macam, bisa dilakukan secara individu maupun berkelompok. Contohnya kegiatan MOS (masa orientasi siswa) di sekolah, istilah Mapras di perguruan tinggi, bentuk pelatihan-pelatihan di berbagai instansi dan lain-lain. Intinya adalah dapat MEMBERIKAN CONTOH YANG POSITIF dan TIDAK ADA UNSUR BALAS DENDAM di dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan, sehingga akhirnya dapat memberikan hal yang berguna kepada orang yang dibina dan bukannya menghilangkan nyawa seseorang.

Penulis masih ingat saat pertama masuk kuliah dulu, di kampus juga mengalami yang namanya mapras atau kegiatan pengenalan kampus. Di dalamnya juga tidak terlepas dari unsur fisik, yang berhubungan dengan pembinaan fisik. Tujuan kegiatan ini tentunya agar seseorang senantiasa dapat menjaga kesehatannya. Kalau sudah memahami tujuan suatu kegiatan, pelaksanaan pembinaan tentunya harus yang sesuai dengan tujuan tersebut. Kejadian negatif (nyawa seseorang hilang) di beberapa kampus yang berhubungan dengan pembinaan fisik, menurut penulis sudah menyimpang dari tujuan yang diharapkan.

Bentuk kekuatan fisik sebagai hukuman kepada yang salah sebenarnya dapat dilakukan melalui tindakan yang positif, misalnya hukuman lari, push-up, dan pembinaan yang positif lainnya. Jadi, bukannya dipukul atau ditendang dengan dalih agar fisik tubuhnya kuat. Kalaupun hal itu terjadi, hendaknya ‘si pembina’ harus mengetahui bagian tubuh mana yang tidak berbahaya jika dipukul. Jadi, yang dibina dulu harusnya ‘si pembina’, kudu belajar teknik pemukulan kepada pembina ABRI sehingga tindakan asal pukul atau tendang ke bagian tubuh tertentu yang membahayakan tidak terjadi. Hal inilah yang belum banyak dimengerti oleh ‘si pembina’ tersebut. Yang lebih parah lagi jika pelaksanaan pembinaan dijadikan media untuk balas dendam atas perlakuan yang diterimanya pada masa sebelumnya. Jika image seperti ini tetap berlangsung, rantai balas dendam tidak akan berakhir dan istilah ‘PEMBINAAN’ hanya dijadikan slogan semata.

Marilah kita sama-sama belajar untuk menghilangkan balas dendam yang hanya akan membawa kerugian kepada diri sendiri. InsyaAllah.

Medio Juni 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s